Jakarta, CNN Indonesia --
Militer Israel mengumumkan peluncuran gelombang serangan luas yang menargetkan infrastruktur pemerintah Iran di Teheran pada Senin (23/3) pagi.
Pengumuman tersebut muncul beberapa sesaat setelah laporan mengenai serangkaian ledakan dahsyat yang menggetarkan berbagai sudut ibu kota Iran tersebut pada Senin (23/3) dini hari.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Koresponden Al Jazeera Arabic di Teheran, Suhaib al-Asa, melaporkan bahwa skala dan volume ledakan yang terdengar di ibu kota kali ini berada pada tingkat yang "belum pernah terjadi sebelumnya," terutama di sisi timur kota.
Situasi di lapangan menunjukkan aktivitas pertahanan udara yang intens. Al-Asa menyebutkan sistem pertahanan udara Iran telah diaktifkan di bagian timur kota menyusul gempuran tersebut.
Sistem pertahanan udara biasanya dinyalakan untuk menjadi indikasi respons terhadap drone AS-Israel yang melintas di wilayah tersebut.
Sejumlah kantor berita lokal Iran, seperti diberitakan AFP, juga mengonfirmasi situasi mencekam ini sejak Senin pagi buta. Kantor berita Fars melaporkan bahwa serangan udara terjadi di beberapa lokasi sekaligus.
"Ledakan terdengar di Teheran," tulis media lokal Mehr melalui unggahan di Telegram.
Fars merinci lebih lanjut bahwa "serangan udara menargetkan area-area di Teheran," dengan spesifikasi lima wilayah berbeda yang melaporkan adanya "suara ledakan yang mengerikan."
Hingga saat ini, otoritas setempat masih terus memantau dampak kerusakan dan potensi korban akibat gelombang serangan udara terparah yang menghantam jantung negara tersebut.
Sementara itu, AS sudah memperingatkan semua warganya yang di luar neger, terutama Timur Tengah, untuk bersiaga penuh menyusul ancaman dari Presiden Donald Trump bahwa mereka akan menyerang infrastruktur energi Iran.
Trump menetapkan tenggat waktu 48 jam kepada Teheran untuk membuka penuh Selat Hormuz. Jika tidak dipatuhi, AS mengancam akan menyerang pembangkit listrik Iran.
Iran pun membalas dengan melontarkan ancaman keras, mereka siap menghantam infrastruktur vital milik Amerika Serikat di kawasan Teluk jika Washington benar-benar menyerang jaringan listriknya.
(chri)
Add
as a preferred source on Google

7 hours ago
5














































